Hukum Kesehatan (untukmu?untukku?untuk siapa?)

22 10 2010

 

Pagi ini udara terasa sejuk, matahari pun bersinar cerah, secerah hati ini memetik kangkung dan daun singkong untuk lalapan dengan sepiring nasi hitam.

Seorang sahabat bertandang ke rumah. Ikut menikmati sarapan pagi yang sangat sederhana. Sambal bawang dan cabe rawit segar pun ikut menemani. Lezaattt.

Dari seputar makanan vegetarian yang kami nikmati, berkembang menjadi pembicaraan serius seputar masalah kesehatan. Lebih serius lagi, menyentuh hukum kesehatan. Ha ha ha…

Hukum kesehatan yang kita tahu tidak berkembang sepesat hukum bisnis. Believe or not? Kenyataannya seperti itu. So…believe or not, setelah kita sakit dengan penyakit serius yang berlabel mematikan justru menyurutkan langkah kita menegakkan hukum. Udahlah…udah sakit jangan bikin ribut dehhhh…jangan cari masalah! ha ha ha begitulah kira-kira.

Saya menulis di sini sebagai seorang penyintas kanker yang masih terus berjuang untuk hidup, sekaligus (mantan) Advokat, sekaligus orang yang kecewa dengan medis konvensional yang saya sebut dengan industri kesehatan (siapapun di dalamnya : dokter, rumah sakit, perawat, farmasi dsb.dsb dsb) dan juga orang yang kecewa dengan industri kesadaran.

Bersentuhan dengan kanker bagi saya pribadi sungguh menyakitkan (pada awalnya). Namun dalam perjalanannya saya memproklamirkan diri untuk bermain cantik dengan penyakit mematikan ini. Toh berdamai dan berdansa dengan kanker sekian lama tidak menyurutkan langkah saya dalam berkarya. Sekecil apapun karya itu.

Lantas, apa hubungannya dengan hukum kesehatan?

Dulu, awal-awal kekecewaan saya dengan sikap para dokter telah membakar semangat saya hingga menyala dan berkobar untuk menegakkan keadilan khususnya dalam hubungan saling (partnership) yang seimbang antara pasien dan dokter.

Kemudian, saya berjalan dalam kebingungan mencari teman senasib. Satu per satu organisasi yang mengatasnamakan pasien (kanker) pun saya datangi.

Lalu, saya kecewa lagi setelah tahu banyak tentang politik per-kanker-an yang telah menjadi lingkaran uang dan mendatangkan keuntungan…..dan sel kanker pun terus membelah dengan biadab di tubuh ini.

Selanjutnya, saya pun merenung panjang….berdiskusi dengan Tuhan, karena saya tak pernah menemukan jawabannya dalam perjumpaan dengan setiap insan yang saya kira senasib. Mereka tunduk dan taat pada industri kesehatan dan menyerahkan seluruh hartanya untuk membeli nyawa. Oooooh….saya terlalu bodoh dalam hal ini. Saya terlalu banyak memperdebatkan hubungan “saling dan seimbang” khususnya antara dokter / dukun(dukun juga praktek lho), sehingga saya terlena bahkan lupa untuk melangkah hingga tindakan medis, terlebih malapraktek dan pemerasan oleh industri kesadaran. Saya asyik makan sayur dan buah….bahkan menanami kebun tetangga untuk memenuhi kebutuhan akan sayuran. Ha ha ha ha ha

Saya bertanya pada Tuhan, begini : “Tuhan, saya lahir, besar dan membayar pajak di negeri ini. Engkau Maha Tahu Tuhan…bahwa negeri ini punya hukum kesehatan yang mentereng. Tapi hukum itu untuk siapa Tuhan?”

Tuhan pun menjawab dalam DIAM.

Dalam DIAM nya Tuhan, para setan pun membisiki telinga saya.

Begini…

“Hukum kesehatan yang tertuang dalam undang-undang dan peraturan lainnya memang sengaja dibuat agar para anggota dewan yang bertugas di bidang legislatif  itu ada kerjaan. Konon proyeknya gede lhoooo…membuat suatu aturan hukum.”

Setan tetangga juga bilang ke tetangga saya : “Hukum kesehatan itu untuk para dosen HAN (hukum Administrasi Negara) ha ha ha biar mereka juga dapat tambahan jam mengajar, kan lumayan…untuk kesejahteraan para dosen.”

Setan yang lewat depan rumah saya pun ikut komentar…..”Aaaah sudahlah. Namanya negara hukum ya dilengkapi dengan hukum kesehatan, biar penyelenggara negaranya sehat. Tapi kalau bisa hukumnya yang ruwet dan rumit biar rakyatnya nggak pada menggugat negeri ini. Apalagi yang sudah kena kanker, kalo perlu aturannya dibuat sedemikian rumit, umur penderitanya kan nggak cukup untuk ngurus perkara sampai ke Mahkamah Agung.”

Ooooooooo…..tapi Tuhan tetap DIAM.

By Siti Aniroh


Actions

Information

3 responses

23 10 2010
antopurwanto

selamat datang kembali dari liburan…
sudah lama juga saya ngga mampir…

semoga tetap sabar, semangat dan ceria🙂
salam sehat…

8 12 2011
mira

Halo mbak, ini pertama kalinya saya berkunjung ke blog ini.
Saya seorang penderita Ca ovarium stadium IV yg sudah setahun lebih menjalani pengobatan konvensional (bedah, chemotherapy, dll). Saya merasa beruntung karena dengan kondisi saya, saya masih tetap bisa bekerja kantoran 9 to 5 selama 5 hari seminggu, bahkan tugas ke luar kota pun masih saya jalani. Tampaknya mbak Ani pernah mengalami kisah buruk berkaitan dengan “industri kesehatan” ya? Boleh bagi ceritanya dong, Mbak? Saya sendiri sampai saat ini masih menggantungkan diri (pengobatan saya) pada “industri kesehatan” ini, sambil pelan-pelan belajar mengubah pola hidup dan pola makan menjadi lebih sehat. Thanks a lot

8 12 2011
mira

ooo…I just read the whole blog. I’m sorry, I don’t know that she wasn’t here anymore. I pray for her, may she rest in peace…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: