You Are Not Alone

7 06 2010

 

Sebuah perbincangan ringan terjadi pada saat saya mengantarkan Awan les piano di sebuah sekolah musik. Sederhana sekali. Saya duduk di ruang tunggu dan berbincang dengan teman yang dia juga orang tua murid yang sama-sama sedang menunggu anak.

”Awan punya adik?” begitu pertanyaannya.

Saya jawab ”Belum”.

”Kenapa? Kasihan lho Jeng kalo sendirian….udah besar lho!”

Saya jawab lagi ”Saya belum boleh hamil dulu sama dokter saya”

Perbincangan itu pun terus berlanjut ”Apa sebabnya?”               

”Kanker Ibu….”

”Ya Ampunnnn….tapi kok sehat sih !!! (ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa dia sangat terkejut).

Saya tambah narsis, ”Saya masih nyetir sendiri, meskipun kalau terpaksa angkat hand rem tangan kanan saya ikut serta.”

”Emang kenapa Jeng dengan tangan kirinya?”

Saya mengusapkan telapak tangan kanan saya ke dada bagian kiri sambil berkata ”Payudara saya sebelah kiri sudah di angkat!”

Sempat terdiam sesaat. Menelan ludah yang sepertinya sangat getir. Dia pun melanjutkan permbicaraannya, ”Ada sepupu saya belum lama ini meninggal. Padahal baru sebulan dia divonis kanker. Stadiumnya juga masih awal. Dia selalu merasa bahwa hidupnya memang akan segera berakhir. Merasa dirinya bergelimang dosa. Bahkan dia berpikir bahwa kanker adalah kutukan Tuhan untuknya. Dia stress berat ketika dia tahu dirinya mengidap kanker. Menutup diri dan bahkan sering kali mengunci diri di kamar. Jangankan berobat, makan pun dia tidak mau dan seringkali marah serta histeris. Ini salah, itu salah. Perangainya berubah. Saya sangat sedih melihatnya, tapi sulit sekali untuk komunikasi dengannya. Sungguh berbeda dengan Jeng Ani…..aduh maaf ya Jeng aku nyerocos aja dari tadi. Saya surprise banget melihat penderita kanker kok sehat begini……saya do’akan Jeng Ani tetap sehat…..aminnnn ”

 Aduh….panjangnya! Pikir saya waktu itu.

Cerita di atas nyata dan ada di sekitar kita. Mungkin masih banyak cerita-cerita lain yang serupa dengan itu. Saya hanya ingin menarik garis sedikit.

Betapa mengerikannya kanker (bagi sebagian orang).

Betapa jahatnya penyakit ini (bagi sebagian orang juga).

Vonis yang baru saja di dengar oleh seseorang bahwa dirinya mengidap kanker ternyata sudah mampu membunuh jiwa dan raganya.

Bukankah sebenarnya jiwa kita tak pernah mati? 

Tidak mudah menerima kehadiran tamu istimewa bernama kanker, terlebih jika kita tidak tahu bahwa di sekitar kita ada banyak penderita kanker yang ternyata masih hidup normal dan sangat mungkin kualitas hidupnya lebih baik.

Kanker (bagi sebagian orang) adalah lagu kematian yang diiringi hujan air mata duka dan nestapa.

Bersyukur saya bertemu dengan teman-teman yang tidak berkubang dalam keterpurukan. Saya tidak sendiri.

Mereka masih tetap berkarya…..

Mereka berprestasi melebihi sebelum mereka menerima vonis kanker….

Mereka sangat peduli sesama….

Di sinilah ”komunitas kanker” dibutuhkan. Jalinan indah sesama penyintas kanker. Tidak membatasi apa jenis kanker yang menggerogoti tubuh. Tidak juga membatasi media apa yang digunakan untuk berkomunikasi sesama (tatap muka, sms, telfon, email, blog, face book, radio, televisi dsb)

Kami saling bertukar cerita dan berbagi tips tentang strategi bergelut dengan kanker. Tidak hanya ada penderita satu jenis kanker, tetapi juga berbagai macam jenis kanker mulai dari payudara, retinablastoma, colon, ovarium, otak, getah bening, sarcoma, leukemia, serviks dan banyak yang lainnya.

Sebagian dari kami adalah ‘survivor” dan sebagian lainnya adalah penderita yang masih dalam proses menjalani pengobatan konvensional / alternatif beserta keluarganya yang mendampingi dan juga para relawan yang bergabung.

Dan yang lebih menarik lagi, kami tidak hanya berbincang-bincang soal kanker, tapi kami juga menyanyi, karaoke, rekreasi, berdiskusi tentang banyak hal dan juga mendengarkan ceramah dari banyak sumber serta berbagi beban persoalan pribadi bahkan sampai dengan resep masakan untuk diet. 

Di dalam sebuah komunitas, jelas terlihat bahwa kita tidak sendiri menderita kanker. Anda tidak sendiri. Saya pun tidak sendiri.

Informasi yang mengalir dan saya terima membuat saya semakin kuat mengibarkan bendera perdamaian dengan kanker. Sekali lagi, saya tidak sendiri.

Rasa syukur yang luar biasa bahwa dengan mengikatkan diri dalam sebuah komunitas saya menemukan banyak pelajaran berharga yang tidak dapat diperoleh di sekolah mana pun. Sesekali rasa perihatin dan sedih timbul tenggelam dalam diri saya ketika mendengarkan teman  yang kondisinya memburuk atau lebih parah dari saya. Tapi lama-kelamaan saya menjadi terbiasa dengan kondisi tersebut dan berubah menjadi amunisi yang cukup canggih bahwa saya lebih baik, berarti prosentase untuk bertahan dengan kualitas hidup yang lebih baik pun lebih besar.

Tidak ada alasan untuk mengurung atau menutup diri. Karena berbicara dan diskusi banyak hal dengan orang yang mengalami langsung lebih memudahkan kita berdamai dengan diri sendiri.

Ulurkan tangan, anda akan semakin kuat dan tangan anda pun akan menguatkan orang lain.

You’re not alone.

(Tulisan ini pernah dimuat di blog.rumahkanker namun beberapa kalimat sudah saya revisi)


Actions

Information

8 responses

7 06 2010
ocekojiro

Sebuah perbincangan ringan juga terjadi disudut sebuah ruang kecil di relung hatiku, kali ini yg terlibat dlm perbincangan adalah aku dan bayanganku sendiri yg masih tetap berwarna hitam.
“Sudahkah kamu buka seluruh pintu dan jendela yang terdapat pada ruang itu ?
Saya jawab “belum”
Kenapa ? Sudah enam tahun loh…?
Saya jawab lagi ” Aku malu
( Dari jauh terdengar sahabatku berteriak )
… Wooy, Malu maluin kalee…. !

8 06 2010
Sahabat Yogya

Iya…..jangan malu-maluin ha ha ha ha……

10 06 2010
sima

Ani, iya tuh. banyak orang salah persepsi, menyangka kalo kena kanker itu pasti kusut dan muram. “but you look happy” adalah komentar seorang teman ketika ia tau kalo aku lg kemo. *&^%!!!!X&???#@! Emangnya orang kena kanker, lg kemo ga boleh hepi?

10 06 2010
Sahabat Yogya

Iya Mbakyu…..kacamatanya yang di pake kacamata kuda ha ha ha kesannya kalo kita kemo berarti mendekati ajal ha ha ha keciiiiaaaan deh. Tetep hepiiiiii mbakyuku Sima.

12 06 2010
Tour, Food, and Health

lam kenal mba…senang bertemu dengan mba di sini..ini kunjungan balik saya…memang mba, komunitas ini penting agar kita bisa saling berbagi dan saling menguatkan di dalam mengobati penyakit ini…

salam sehat,
tfd

14 06 2010
sitinuryani

keep smile mba n enjoy with your life…

25 06 2010
rainbroccoli

Seperti kata Mbak Ani: Mereka masih tetap berkarya…..
Mereka berprestasi melebihi sebelum mereka menerima vonis kanker….
Mereka sangat peduli sesama….
Penderita kanker ya tetap bisa beraktivitas seperti orang yang lain, cuma bebannya yang beda.
Ditambah lagi, selalu berpikir positif dan optimis, insya Alloh bisa membantu kesembuhan..

22 08 2010
Devi

Alangkah merdekanya jika dpt menentukan sikap hidup sendiri dan sekaligus menikmatinya. bahagia selalu yaa dindakuw…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: