Belajar dari Teguran

30 05 2010

 

Menjalani kehidupan yang normal, sehat  dan bahagia bersama orang-orang tercinta adalah sesuatu yang diharapkan oleh setiap orang. Suatu ketika harapan itu terwujud  melebihi apa yang ada dalam angan dan impian.

 Indahnya dunia….itu yang terucap dari bibir.

Namun….tiba-tiba semua berubah hanya oleh satu kata yang mampu mengguncang kehidupan: KANKER.

Iya, Kanker. Penyakit yang menebarkan aroma kematian.

Jujur, mengenalnya pun enggan, apalagi menerimanya di tubuh kita. Tidak hanya menyakitkan fisik, tapi juga jiwa kita. Beribu-ribu pertanyaan yang berkecamuk dalam diri kita tiba-tiba muncul berderet dan harus segera mendapatkan jawaban. Pencarian atas jawaban yang kita harapkan terkadang berujung lelah dan ada yang lebih parah lagi, yaitu putus asa.

Dari  ruangan lain yang berbeda perspektif ada yang mengatakan ”Itu teguran dari Tuhan atas perbuatannya….saatnyalah bertaubat!”

Sedikit lebih sinis ”Dia itu dikutuk Tuhan dengan kanker!”

Yang miring juga ada, ”Dosanya segunung, syukurin tuh kena kanker!”

Yang sok tahu tapi nggak tahu, “Jangan deket-deket dia, ketularan lho!”

Apakah kalimat itu perlu kita telan mentah-mentah? Atau kita perlu mundur selangkah untuk merenungkannya? Atau….lebih ekstrim lagi, kita kesal dan marah pada orang yang mengucapkan kata-kata itu?

Sadarlah…. di pagi hari setiap kita buka jendela, udara pagi yang segar dan matahari yang  hangat sinarnya menegur kita. Bunga di taman, embun pagi yang berkilau, kicau burung nan merdu…. Mereka semua menegur kita bukan?

Teguran yang tidak menyenangkan hati terlalu sering kita persoalkan, tetapi yang kecil-kecil dan menyenangkan kita abaikan. Betapa merugi sekali jika anugerah Tuhan itu kita lewatkan begitu saja. Waktu yang terus berjalan akan berlalu dan hilang kesempatan kita untuk menyapa ”Haloooo matahari….hai…embun pagi….selamat pagi burung-burung…..”

Kembali pada kehidupan kita yang diwarnai dengan ”kanker”. Mari kita memaknainya sebagai sesuatu yang positif dan tetap indah. Meski dibalik keindahan itu ada sebaris kesulitan yang berdiri sama tingginya dengan air mata dan rasa sakit.

Dengan cara berpikir yang positif, kita akan mengiyakan bahwa Tuhan menegur kita dengan kanker. Tidak perlu berlebihan menyikapinya dengan kemarahan, karena kita belajar menjadi manusia yang lebih baik dengan teguranNya. Apa yang lebih baik?

Pola pikir, pola makan, pengendalian emosi dan kesabaran, kejujuran, keikhlasan…….dan banyak lagi yang lainnya jika kita mau jujur pada diri kita sendiri.

Sebelum terkena kanker, kita tidak akan pernah berpikir bagaimana hidup dengan kanker. Bahkan mungkin kita berlaku sama dengan orang-orang yang seringkali menegur kita dengan pilihan kata yang minus.

Sekarang, kita sadar bahwa rutinitas dan kehidupan kita yang penuh dengan hiruk pikuk dunia ternyata berperan menumbuhkan sel-sel kanker di tubuh kita. So…? kita akan belajar tentang alam yang menghadirkan berjuta pengetahuan. Kita berkenalan dengan sayuran dan buah-buahan yang segar untuk membantu tubuh kita kembali alkali, kita akan bekerja dengan Tuhan dan menyertakannya dalam setiap pengobatan yang kita tempuh….yang mungkin semua itu sedikit sekali porsi yang kita berikan sebelum berkenalan dengan kanker.

Tidak hanya itu, latihan mengenal diri sendiri pun kita dapat saat kita hidup dengan kanker. Kita akan belajar dan tahu bahwa parameter CEA (tumor marker) kita angkanya naik dan turun….sehingga kita harus mengendalikan emosi…termasuk saat mengantri  dokter, menunggu mendapatkan kamar perawatan, menghadapi perawat serta dokter yang pelit senyum dan banyak lain hal-hal kecil yang kita dapat sebagai pelajaran berharga setiap hari.

Kita pun menjadi manusia yang peduli kepada sesama dan lebih menghargai waktu untuk hal-hal yang bermanfaat.

Kita akan belajar problem solving yang tepat untuk meningkatkan pelayanan rumah sakit  dengan cara yang bijak dari sudut konsumen.

Semua itu terkadang belum cukup karena pengobatan kanker tidaklah instant, melainkan lama dan panjang serta menguras biaya yang tidak sedikit. Rasa bosan dan jenuh datang dan pergi menggelitik relung hati. Sampai kapan harus begini?

Kita sering melihat di luar sana pasien kanker yang tidak mau dan tidak mampu lagi melanjutkan pengobatan karena tidak terjangkaunya harga obat, karenanya…bagi kita yang masih memiliki kesempatan lebih baik harus bersyukur karena healing proccess terus berjalan sehingga kualitas hidup dapat kita tingkatkan.

Hidup dengan kanker…..tetap indah jika kita memaknainya sebagai pelajaran yang berharga karena kita mau belajar dari teguranNya.

By Siti Aniroh

Dimuat di majalah DianA (RS. Dharmais edisi Oktober ’09)


Actions

Information

12 responses

30 05 2010
ocekojiro

Aku jg ingin menyapa pelangi yg muncul sore tadi sehabis hujan,
Hallooo Pelangiiiii….. !!

1 06 2010
ferdinu

Berkat kanker kita jadi belajar buanyak sekali hal ya mbak,…..terutama belajar untuk lebih peka..🙂

2 06 2010
Sahabat Yogya

@Kang Oce
Iya, Pelangi indah usai hujan reda…..

@Ferdi
Iya Fer, termasuk belajar tanpa rambut (botak?…tapi keren hik hik hik) dan belajar menulis Vimala. Pasti bisa!

2 06 2010
sima

hi ani..
bagus sekali tulisannya. setuju 100 %
kata2mu membuat kita makin sadar pentingnya memaknai hidup ini agar menjadi lebih indah.

2 06 2010
sitinuryani

nulis boleh tp ingat ingat ……ama kondisi ……kalo dah cape istirahat yah nanti ngedrop lage….

3 06 2010
Sahabat Yogya

@Mbakyuku T.Sima…..dikaw itu salah satu yang menginspirasiku untuk menulis dan menulis dan menulis serta menulis terus menulis.

@Mbakyu Siti….dkw juga nggak boleh kecapekan. Jangan ngeyel ya! mau diomelin? hahahaha

3 06 2010
bluethunderheart

wah blue bisa belajar sesuatu dari postinganmu,kawan
salam hangat dari blue

4 06 2010
Sahabat Yogya

Hiii Blue, tengkiyu yah udah mampir, blogmu juga kerennn, tulisanmu oke.

8 06 2010
Goodgrade

Hei, Ani.
Ada suku pribumi yang bebas dari kanker. Mereka hidup dikutub utara yakni suku Inuit (Eskimo). Mereka makan daging,lemak, lemak difermentasi, hampir tanpa karbohirat. Ada yang mengatakan mereka “almost carnivore”. Namun setelah suku ini bersentuhan dengan kebudayaan barat yang ditandai dg asupan gandum, gula, mereka mulai terkena kanker. Mereka tak kenal obesitas walaupun hampir tak pernah gerak badan. Tak ada diabetes dan gigi mereka lebih putih dari kita, gak ada yg kerowok walau tak pernah “sikatan”. Tengok di blog ku goodgrade.wordpress.com
Gak makan karbo? Ada sebuah penelitian kanker yg spektakuler tetapi selalu dilupakan dokter dlm menangani kanker. Penemuan Otto Warburg yg kemudian memenangkan Nobel thn 1931yakni “sugar feeds cancer”. Ya asupan gula akan menghidupi kanker, kalau asupan gula dikurangi, kanker akan kelaparan.
Tubuh kita tetap mampu hidup tanpa karbo seperti suku Inuit, suku Masai di Sahara, suku Indian Amerika saat masih mengembara. Bukankah kita, homo sapien, adalah “hunter gatherer” selama 190,000 tahun y.l ? Kita mulai makan jewawut makanan burung setelah 10,000 tahun yg lalu?
Wasalam

8 06 2010
Sahabat Yogya

@Goodgrade
Thanks udah mampir. Artikelnya menarik. Kenyataannya sekarang untuk mendapatkan daging yang fresh sangat sulit. Nah makanan orang kita (kuliner) berasal dari semua binatang yang dibiakkan secara instant karena tuntutan permintaan yang tinggi. Berbeda dengan orang eskimo yang awalnya mereka berburu….atau gak usah jauh-jauh sama nenek n kakek kita dulu yang ayam bebek dan mentoknya makan bekicot/remis he he he…
Bicara asupan garam yang menggila saat ini, wooow saya dengan diet Gerson Therapy (tanpa gula & garam) selalu dicibir “Lemes dong!” tapi yang mengatakan itu nggak lihat bahwa saya masih pecicilan dan nggak lemes ha ha ha ha yang memprihatinkan sekali adalah industri makanan anak-anak yang semuanya ASIN.
Bicara vegetarian juga semua sayur sudah diguyur pestisida, repot kan? he he
Bahkan saya beberapa kali ngetest sayuran yang label ‘organik’ di supermarket adalah “belum tentu”. (contoh sederhana kangkung yang dimasak langsung hitam jelas bukan organik hik hik hik) Makanya saya lebih suka ke kebun organik langsung untuk membeli sayuran organik.

9 06 2010
Goodgrade

Dear Ani,
Aku sdh baca ttg Gerson Therapy melalui website National Cancer Institute, http://www.cancer.gov. Bahkan NCI pun pernah telaah hsl Dr Gerson.
Checkand read it.
Ini ceritera Patrick Quillin, Phd, Direktur Nutrisi Rawat Kanker di Tulsa Amerika. Dia pernah merawat lebih dari 500 orang pasien kanker selama 10 thn kariernya. Dia juga sering heran kenapa kaidah Otto Warburg dilupakan para dokter yg merawat kanker. Pd thn 1990, dia menghubungi RS2 yg merawat kanker dg infusnya yang berisi 70% glukosa, makanan yg disukai kanker. Tentu saja kankernya menjadi lbh besar.
Tentang vegetarian, bagaimana info yg Ani dapat? Adakah mereka lbh tahan terhadap kanker?

20 08 2011
Obat Diabetes

Ada sebuah penelitian kanker yg spektakuler tetapi selalu dilupakan dokter dlm menangani kanker. Penemuan Otto Warburg yg kemudian memenangkan Nobel thn 1931yakni “sugar feeds cancer”. Ya asupan gula akan menghidupi kanker, kalau asupan gula dikurangi, kanker akan kelaparan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: